Warga Garda Depan Perangi COVID-19

oleh -340 views

KIM Galunggung Info Santanamekar. Pertanyaan : berdasarkan info, kematian corona itu diakibatkan lebih krn riwayat penyakit pasien seperti Jantung, TBC, dll… Sampai saat ini adakah kematian yg diakibatkan asli krn CoVId?

Jawaban: dr. Erisanti Nurfarida, Sp.PD.

Kalau dari segi patogenesis, corona sendiri masuk ke golongan sars cov 2, sars artinya infeksi yg bisa bikin severe acute respiratory syndrome.

Virus ini bila masuk ke dalam tubuh, maka akan dilawan sistem imun dan menghasilkan apa yg disebut cytokine storm atau badai sitokin. Sitokin2 ini berperan melawan virus itu sendiri, namun, bila respon sitokin berlebihan, maka yg terjadi adalah kegagalan multi organ mulai dari gagal nafas, gagal ginjal, miokarditis, syok, dll. Hal ini yang bisa menyebabkan pasien masuk ke kondisi perburukan dan membutuhkan support hemodinamik spt ventilator atau obat2an support di icu. Pasien2 dgn komorbid atau punya penyakit yg mendasari spt dm, cad, ckd, lansia, autoimun, rentan terjadi badai sitokin ini. Jadi respon imunnya bereaksi terlalu berlebihan. Ya, kalau berlebihan juga bahaya.

Sebetulnya COVID19 kalau menyerang orang dengan sistem imun yg baik, maka akan tidak bergejala, sehingga jadilah orang itu karier, atau bergejala tapi ringan. Hampir sebagian besar masuk kelompok ini.

Hanya karena yg kena banyak, akhirnya angka yg meninggal tampak fantastis. Hampir di semua negara, case fatality rate kurang dari 10 persen. Jadi memang kondisi severe acute ini hanya menyerang kurang dari 10 persen orang.

Kalau kita biarkan herd immunity terjadi, bisa bayangkan indonesia 260juta jiwa. Kalau teori herd immunity artinya 80% masy akan sakit dan terkena, jadi sekitar 200jutaan penduduk indonesia akan terpapar. Kalau menghitung angka kematian 8%, sekitar 16 juta jiwa akan meninggal. Ya ini skenario terburuknya. Kalau kebijakan atas ga sinkron sama yg dibawah lama2 bisa seperti ini.

Untuk wabah spt ini ga bisa kebijakan setengah2. Ga bisa juga hanya mengandalkan kemampuan tenaga kesehatan. Kami bukan garda terdepan, justru garda terdepan adalah teman2 dan masyarakat yang mau berikhtiar supaya transmisi virus ini bisa ditekan. Kami berada di garis pertahanan paling belakang.

Makanya penting tracing, testing dan treat. Tracing artinya menemukan kluster atau kelompok yg beresiko terpapar. Testing melakukan test sebanyak banyaknya.Treat melakukan perawatan seoptimal mungkin.

Namun, kondisi di lapangan sulit. Tracing : masy menganggap penyakit ini aib, ga jujur ditutup tutupi. Atau ketakutan sehingga tidak jujur saat pemeriksaan. Testing : yg ada rapid test antibodi yg false negatif cukup banyak. Dan alat terbatas. Tidak semua merata. Swab pcr : antri..  bisa berhari2 baru ada hasil. Treat ? APD seadanya, tenaga kesehatan terbatas, ruangan seadanya disulap dadakan jd ruang isolasi.

Stay safe dalam artian, kita safe utk diri kita dan keluarga.. tapi juga harus peduli sekitar. Saatnya masyarakat yg peduli dan bangkit, kalau memang pemerintah masih setengah2. Kita yang harus sadar membatasi diri, tapi juga harus peduli pada konsekuensi tetangga atau teman kita yang lain yg mungkin tidak mendapatkan rezeki lebih dibanding kita. Saat ini yang butuh donasi juga teman2 kita dan masyarakat yang kerja di sektor informal, yang mungkin dengan kebijakan karantina terbatas atau pembatasan sosial ini terkena imbas paling besar.

Mulai dari peduli sama tetangga terdekat yuks.

Reporter : Erdis

Editor : Iman Rohiman